12/26/09

Mohon Konfirmasi

Teman - teman yang terhormat, saya meminta konfirmasi terhadap kesalahan yang saya buat dalam tulisan tulisan saya. Adapun tulisan sederhana tersebut dibuat tentunya dengan pengalaman di lapangan. Interview dengan para pelaku sendiri dan kenyataan dalam organisasi terutama memang dalam pasukan khusus, organisasinya unik dan kerap kali berubah sesuai dengan kebutuhan. Jadi, saya memohon masukan demi perbaikan ke depan.

Terima Kasih...

X - Men

12/22/09

Film tentang pasukan khusus TNI

Saya harap di Tahun 2010 nanti ada sutradara atau sineas muda seperti Jose Poernomo yang membuat film ttg satuan pasukan khusus TNI. Pasukan khusus kita sangat disegani oleh pasukan negara lain. Kemampuan skill prajuritnya berada di atas rata - rata. Apabila disaikan dengan tehnik edit, pengambilan gambar dan cerita yang baik (biasanya film ttg pasukan khusus menyertakan bagaimana pasukan itu dididik. Contoh : Behind Enemy Lines II) saya yakin masyarakat akan tertarik dan bangga bahwa Indonesia memiliki pasukan elit seperti Kopassus,Korpaskhasau, Kopaska,Raider,Ki Tai Pur dan Marinir IPAM. Dengan skill dan pengalaman tempur yang tak kalah heroik dengan militer asing khususnya di Asia.

5/12/09

KESEJAHTERAAN PRAJURIT ADALAH MUTLAK.....!!

Saya pikir setiap orang yang menyatakan dirinya sebagai WNI setuju dengan pendapat saya di atas. Kesejahteraan rakyat termasuk prajurit TNI sebagai abdi negara di bidang pertahanan adalah mutlak diperlukan.

Kesejahteraan bagi bagi seorang prajurit yang utama adalah latihan. Baik latihan dalam mempertahankan keahlian yang diperoleh atau meningkatkan kemampuannya. Namun alangkah malangnya seorang prajurit ketika dia berkeinginan keras untuk meningkatkan kemampuannya..ternyata kesatuan yang membina dan mendidik mereka menjadi manusia yang lebih berilmu....tega memotong gaji dan uang lauk pauknya. Ini pun jujur saya alami ketika mengenyam pendidikan di sejumlah pusdik TNI baik Darat, Laut dan Udara. Di akhir pendidikan, saya menerima 3 dari 4 bulan gaji (tanpa ULP). Kemanakah gaji yang 1 bulan itu beserta ULP ? jangan ditanya lagi....apalagi lapor kepada CPM....karena bos tertinggi dalam satuan tersebut beserta anggota organik yang terlibat sudah sedemikian terlatih secara sistematis dalam masalah ini. Kita pun sebenarnya bisa memaklumi apabila potongannya tidak seberapa...tapi kalau sampai 1 bulan gaji dan 4 bulan ULP itu namanya MARK UP !! Korupsi !

Seharusnya memang negara- lah (dalam hal ini TNI) yang seharusnya menyediakan penuh semua keperluan prajurit dari A s/d Z dan sebenarnya negara pun telah melakukan kewajibannya. Namun celah dan kontrol yang lemah dari internal TNI, membuat pelaksanaan latihan dan pendidikan berubah menjadi NERAKA BATIN bagi seorang prajurit. Kontrol ini seyogyanya tidak dilakukan oleh internal TNI. Karena pengawasan internal dalam TNI sangat rentan terhadap hubungan atasan - bawahan, senior - junior, mantan atasan dsb.

Bagi mereka yang masih bujang mungkin bisa cuek saja ketika gaji di"hilang"kan begitu saja...(walau tetap sakit hati) tapi bagi yang sudah berkeluarga uang Rp. 100,- pun sangat berharga bagi keluarganya. Maka dari itu, jangan heran karena setelah apel malam bagi prajurit yang punya pengetahuan pas - pasan menjadi tukang ojek bahkan jadi centeng. Yang punya keahlian lain malah bekerja di tempat lain....terutama mereka yang berasal dari pasukan khusus. Itu fakta sampai sekarang. Jangan salahkan dulu tentu. Sebab faktanya, 40 s/d 50 % gaji anggota yang bekerja di luar itu disetor ke kas batalyon. Dengan kata lain, batalyon-lah yang sebenarnya menyalurkan mereka bekerja. Batalyon mempunyai link dengan perusahaan - perusahaan tertentu. Dalih dari Itu semua adalah digunakan untuk keperluan operasional batalyon. Sungguh miskin sekali Republik Ini !!!!!! Ironis !!!

Apapun alasannya, yang patut dipersalahkan adalah komandan tertinggi di satuan tersebut. Alias Dan Yon nya !. Seorang komandan bukan hanya memikirkan bagaimana skill prajurit selalu terjaga dan meningkat namun juga kesejahteraan prajurit dan keluarganya. Banyak komandan yang berhasil dalam TNI sehingga dikenang sepanjang masa...namun bagi mereka yang gagal akan dikenang sebagai perwira pecundang...karena tidak bisa mengayomi para anak buahya.

Permasalahan makanan sering kali mewarnai bentrokan antara anggota batalyon (tamtata dan bintara) VS Perwira (yang dianggap pro Dan Yon). Yon Arhanudri 1, Yonif 509 dan Yonif 515 pernah mengalami hal ini. Baru - baru ini menimpa Yonif 751 di Sentani Papua. Yang lebih parah adalah di Den Rudal Cikupa. Ketika makan siang, seorang prajurit menembaki rekannya..banyak korban luka dan tewas. Begitupun pada pembayatan anggota baru YON IPAM yang kabarnya "lebih parah" daripada pendidikan IPAM itu sendiri...makanan yang tak sebanding dengan energi dan ULP yang dikeluarkan membuat prajurit menjadi kalap. Bagaimana bisa berlatih dengan baik kalau logistiknya tidak dipenuhi ?

Mulai dari pendidikan pembentukan sebenarnya sudah tidak ada yang gratis !! semua bayar....mulai kaporlap sampai kadang nyogok latihan. (latihan kering istilahnya)...ada petugas penagihan yang membuat bon setiap bulan agar dibayar....aneh bukan? padahal untuk level siswa calon tamtama dan bintara...pada 3 bulan pertama tidak diperbolehkan membawa uang. Bisa anda bayangkan kalau yang secata dan secaba selama 6 bulan saja tagihannya mencapai jutaan rupiah...lantas bagaimana dengan para taruna yang menempuh pendidikan selama 3 tahun ? tentu hanya Tuhan YME yang mempunyai jalan untuk menyelamatkan para taruna yang berasal dari keluarga tidak mampu.

Saya berharap Presiden RI sebagai seorang Jenderal dan panglima tertinggi TNI sangat memperhatikan hal ini. Saya percaya, beliau sebagai sesama Prajurit mempunyai keinginan untuk membangun TNI yang modern, tangguh dan profesional di masa depan. Namun sebaiknya sistem pengawasan terutama yang menyangkut kesejahteraan prajurit harus diperketat.
Tulisan dalam blog ini bukanlah tulisan cengeng dan mengharap belas kasihan !!! tidak sama sekali.....!!!! tulisan - tulisan di blog saya adalah bahan renungan bagi kita semua untuk memajukan TNI yang kita cintai...dan memberangus praktek - praktek menyimpang yang saat ini sangat biasa terjadi dalam lingkugan militer yang seharusnya steril dari kepentigan2 tertentu.......lebih baik mati bersimbah darah dalam pertempuran daripada hidup enak diatas penderitaan para prajurit yang haknya dirampas....!!!!!

3/22/09

Efektivitas GRUP I dan II PARAKO KOPASSUS

Tulisan ini adalah pendapat saya pribadi sebagai insan prajurit pejuang dan pejuang prajurit yang senantiasa memikirkan kemajuan TNI ke depan sebagai Tentara Nasional yang besar, kuat dan profesional.

Pengertian besar pada tulisan saya diatas bukan berarti punya banyak personel. Inilah yang terjadi pada tubuh Komando Pasukan Khusus TNI AD.

Saya rasa postur organisasi Kopassus sekarang masih "terlalu gemuk". Efek negatif dari postur organisasi yang seperti itu apabila tidak diimbangi dengan pendanaan yang cukup adalah pembinaan, mempertahankan dan peningkatan kualitas personel yang tidak merata. Hal ini memang sangat dirasakan pada tubuh GRUP I dan II. Sempat bertemu dengan beberapa teman di Serang dan Solo, mereka mengungkap semuanya. Lebih jauh lagi, penugasan Grup Parako (Para Komando) sekarang sudah seperti batalyon lintas udara saja. Mereka selalu dan selalu diterjunkan bersama batalyon - batalyon linud KOSTRAD yang kalau ditilik lebih jauh dalam sejarah TNI memang mempunyai kualifikasi pasukan "mirip" Parako, yaitu RAIDER PARA. Walaupun memang tak dipungkiri, dalam Grup I dan II terdapat beberapa personel berkualifikasi lebih bahkan diluar matra darat (paska, OP3UD dll) namun inti dari penugasan PARAKO apapun alasannya adalah LINTAS UDARA. Mungkin alasan "klasik" sederhana yang di kemukakan para petinggi KOPASSUS apabila mempertahankan unit Parako adalah : "sesuai tupoksi nya Kopassus bertugas pada penugasan khusus yang tidak bisa dilaksanakan oleh unit lain". Dalam kenyataannya dari rentang waktu penugasan mulai dari Operasi Seroja (bahkan Parako "didahului" Yon Armed 1 Ajusta) sampai dengan operasi Aceh..PARAKO selalu diterjunkan bersamaan dengan batalyon linud KOSTRAD. Lalu, dimana letak kekhususan pasukan elit TNI AD ini apabila mereka selalu mengerjakan tupoksi sebagai unit lintas udara ?

Ide "gila" saya adalah melebur PARAKO dari 2 GRUP menjadi 1 GRUP .
Yaitu Grup Kualsus (Kualifikasi Khusus) dengan rincian cukup 2 batalyon :

1 Batalyon khusus untuk mendalami kecabangan dalam TNI AD dan 1 Batalyon lagi untuk mendalami kecabangan di luar matra darat.

Dengan demikian diharapkan KOPASSUS memang benar - benar menjadi KOPASSUS yang besar memiliki kemampuan komplit di darat, laut dan udara maupun bawah air. Pembinaan personel juga bisa lebih tertata karena konsentrasi spesialisasi pelatihan bisa terbagi dalam tingkat peleton dan rotasinya bisa diatur.
Personel Grup ini adalah hasil seleksi dari anggota Grup I dan II. Yang tidak memenuhi persyaratan akan disalurkan ke batalyon - batalyon KOSTRAD baik unit linud maupun linmed. Dengan begitu, selain efisien juga efektif untuk "mengakali" pembinaan dan peningkatan skill batalyon - batalyon KOSTRAD yang harus selalu stand by sebagai KOTAMA BALAKPUS. Terutama untuk mengisi personel DIVISI III yang akan segera beroperasi.

Selama ini batalyon - batalyon linud KOSTRAD selalu menerima prajurit - prajurit baru sehingga perlu waktu lama untuk mendidik mereka menjadi siap tempur. Ada sih diantaranya yang memang hanya menerima bintara reg dari kesatuan mereka sendiri seperti YONIF Linud 328 dan Yonif 514 Raider. Namun untuk keseluruhan memang KOSTRAD memerlukan banyak personel yang mumpuni dan telah profesional menjalankan tugasnya. Efek positif lainnya yaitu tidak ada lagi seorang prajurit baru semua tingkatan (tamtama, bintara dan perwira) menjadi prajurit staf. Karena jabatan - jabatan staf bisa juga diambil dari staf senior ex. Grup I dan II. Pembinaan lapangan lebih terarah karena telah ada pemenuhan kader pelatih.

2/6/09

My new Email & HP Number...

Bagi anda yang ingin menanyakan tentang pendidikan TNI, kultur satuan (bukan alutsista), atau hal - hal lainnya tentang keprajuritan dapat mengirimkan email ke :

raider_ari@plasa.com (harus disertai foto asli anda)

atau :

081237369178 pada jam kerja 09.00 s/d 12.00 waktu setempat (SMS only)

Pembaretan Prajurit Korps dan Kotama TNI

PEMBARETAN PELETON PENGINTAI PERTEMPURAN KOSTRAD


PEMBARETAN ANGGOTA KOPASSUS TNI AD


PEMBARETAN ANGGOTA KORPS MARINIR TNI AL




PEMBARETAN ANGGOTA KORPASKHASAU TNI AU



PEMBARETAN ANGGOTA KEHORMATAN KOPASKA TNI AL




2/3/09

Tradisi Pembaretan dan kultur satuan TNI

Pembaretan dan pleton latihan (ton lat) pembayatan dll sebenarnya adalah bagian dari sisi keprajuritan Tentara Nasional Indonesia yang memang terkait dengan sejarah perjalanan bangsa Indonesia sendiri. Semua itu dimaksudkan agar para prajurit baru dapat memahami betapa berharga dan sucinya pengabdian kepada ibu pertiwi yang seringkali berujung kepada nyawa yang menjadi taruhannya. Simaklah pendidikan pasukan - pasukan khusus baik di TNI AD, TNI AL maupun TNI AU. Walaupun mereka telah mendapat baret di kesatuan asal atau induknya namun apabila satuan khusus yang dimasuki memiliki tradisi dan karakteristik tersendiri dalam berbagai hal yang berbeda dengan satuan asalnya maka tradisi pembaretan dan pemasangan Brevet tetaplah sakral bagi seorang prajurit. Karena untuk mendapatkan baret dan brevet kebanggaan perlu minimal 7 bulan menempuh pendidikan untuk memiliki skill dan kemampuan yang memang seperti diakui oleh tentara asing SAMPAI BATAS PUNCAK atau bisa dikatakan SADIS ! Lihat saja pembaretan Kopassus, Raider, Ton Tai Pur, IPAM, Paskhas dan Kopaska semua dicapai dengan susah payah oleh calon anggotanya.

Biasanya setelah tradisi pembaretan maka diadakan tradisi pengenalan satuan. Disini para prajurit baru dikenalkan kepada kehidupan batalyon / satuan dan senior. Nah, awalnya walaupun tujuannya baik namun seringkali ini dijadikan ajang balas dendam oleh para senior. Kekerasan yang tidak perlu sering terjadi dengan alasan yang dibuat - buat. Sebenarnya para junior ini (terutama tamtama remaja) bukan takut. Mereka hanya segan. Karena pada klimaksnya bisa terjadi kekacauan dalam batalyon seperti pada 2000-an di Yonif 515 / KOSTRAD di Tanggul Jember dan Yon Arhanudri 1/ KOSTRAD di Serpong. Keduanya kebetulan batalyon KOSTRAD. Disamping 2 batalyon tadi masih banyak contoh lainnya namun belum terungkap. Sebenarnya keras itu perlu untuk menempa mental prajurit namun kekerasan yang berlebihan justru berbahaya. Sikap yang keras (bukan kaku) perlu dari seorang pelatih dalam latihan agar prajurit dapat mengerti dan cepat menguasai skill yang diperlukannya. Sikap keras seorang komandan regu, peleton, kompi sangat perlu dalam pertempuran agar motovasi prajuritnya tidak drop.

Sikap keras yang berlebihan inilah yang akhirnya menjadi Bullying. Ini dicontoh oleh Sekolah sekolah bermodel Semi Militer semacam IPDN, STIP dll. Mereka beranggapan bahwa militer mendidik para prajuritnya dengan kekerasan sehingga para juniornya pada patuh. Anggapan ini tentu saja salah besar karena yang menjadikan seorang patuh adalah sistem. Pelatih, komandan dan senior menghukum seorang prajurit apabila melakukan kesalahan bukan mengatas namakan pribadi-nya melainkan aturan kedinasan. Sedangkan para taruna sipil ini melakukan kekerasan tanpa alasan dan hanya sebagai gagah - gagahan. Mereka ingin dihormati dan ditakuti oleh para juniornya. Saya sangat menyesali hal ini

Tiap satuan di TNI itu unik. Mereka punya sesanti, lambang dan keterkaitan sejarah (legenda) bangsa Indonesia. Satu - satunya organisasi tentara profesional yang mempunyai hal seperti itu di dunia adalah TNI. Multi kultur bangsa Indonesia menyebabkan satuan tempur nya memiliki gerak dan tradisi khas satuan yang beragam. Tengok saja Batalyon 323 Raider yang memiliki keterkaitan dengan legenda Buaya Putih. Atau Batalyon Linud Masariku di Ambon, semua punya kultur tersendiri yang erat dengan budaya masyarakat setempat.

1/26/09

DIVISI III KOSTRAD segera beroperasi...

Divisi III akan segera beroperasi pada tahun 2009. Divisi KOSTRAD ini akan dipusatkan di Sorong, Papua dan akan membawahi 3 Brigade diantaranya Brigif 22 dan Brigif Linud 3. Seperti yang diketahui bahwa brigif Linud 3 sangat erat kaitannya dengan Kopassus. Mengingat, dulunya pasukan linud dibawah brigif linud ini adalah "eks. Baret Merah". Pada saat itu terjadi likuidasi dalam tubuh Kopassus alias penciutan dan perpindahan markas. Akhirnya sebagian besar anggota parako di Makassar dimutasi ke Batalyon Linud KOSTRAD. Markas Komando Divisi III (brigade dan elemen - elemennya) akan ditempatkan di Makassar dan Gorontalo.

1/23/09

Sorri Bro...!!

Sebagai penulis artikel dalam blog ini, saya minta maaf apabila penataan blog masih belum sempurna baik di gambar dan teks. Maklum, blog ini saya tulis di tengah kesibukan dan rutinitas yang padat. Saya akan mencoba terus belajar dan belajar lagi untuk meningkatkan kualitas...mungkin ada saran dan usul dari teman - teman untuk menjadikan blog ini menjadi lebih bagus dan keren. Mengingat, setelah saya telusuri di internet ternyata hanya dalam blog ini yang menyediakan semua profil yang nyaris sangat lengkap mengenai sejarah dan pendidikan para anggota "special forces" di TNI.

Info dalam blog akan selalu saya up - date apabila ada perkembangan baru tentang pendidikan, kultur satuan - satuan khusus TNI. Sekali lagi saya lebih berkonsentrasi kepada hal - hal yang menyangkut tentang kultur, sistem pendidikan dan tupoksi satuan2 khusus TNI.

SALAM KOMANDO !! X - MEN

1/22/09


DETASEMEN JALA MENGKARA KORPS MARINIR DAN SAT 81 GULTOR KOPASSUS

YONIF 500 / RAIDER DAN KOPASKA ARMATIM DI BANDARA JUANDA


PELETON PENGINTAI PERTEMPURAN KOSTRAD


PELETON PENGINTAI PERTEMPURAN KOSTRAD


DETASEMEN KHUSUS 88 DAN SATUAN ANTI TEROR GEGANA POLRI




KOMANDO PASUKAN KATAK TNI AL


SALAM KOMANDO PASUKAN KHUSUS TNI



APEL GABUNGAN LATGAB ANTI TEROR 2008

DARI DEPAN KE BELAKANG : BRAVO, IPAM,DENJAKA,SAT 81 GULTOR, TON TAI PUR





BATALYON INTAI AMFIBI KORPS MARINIR

YONIF RAIDER 323 / KOSTRAD


UPACARA BATALYON INTAI AMFIBI KORPS MARINIR

SAT 81 GULTOR KOPASSUS
DETASEMEN JALA MENGKARA

DETASEMEN BRAVO KORPASKHASAU