6/23/08

Kisah seorang operator Operasi Woyla KOPASSUS

Pelda PL Tobing: Penyergap Pembajak Pesawat Garuda Woyla


“Tunjukkan jati dirimu, lebih baik kita pulang nama dari pada gagal di medan laga”.


Perintah Alm Jenderal TNI LB Murdhani itulah yang memotivasi semangat pengabdian dan pengorbanan Pelda Pontas Lumban Tobing berani berhadapan langsung dengan pembajak untuk membebaskan para penumpang pesawat Garuda Woyla yang disandera pembajak di Don Muang Thailand.
Atas jasanya itu Pelda Pontas Lumban Tobing menerima anugerah kehormatan medali “Bintang Sakti Mahawira Ibu Pertiwi” sebagai penghargaan atas pengabdian dan pengorbanannya yang patut dijadikan suri tauladan bagi semua generasi penerus prajurit TNI.
Pembebasan penumpang pesawat Garuda DC-9 Woyla di bandara Don Muang Thailand merupakan peristiwa spektakuler, bahkan banyak yang menilai keberhasilan itu melebihi keberhasilan Israel dalam membebaskan sandera di Entebbe Uganda.
Keberhasilan TNI dalam hal ini Kopassus dalam aksi pembebasan sandera itu tidak lepas dari perang Pelda Pontas Lumban Tobing salah seorang anggota Kopassus yang tergabung dalam tim pembebasan dan bertindak sebagai penyergap bersama temannya almarhum Ahmad Kirang yang gugur dalam aksi itu. Pak Tobing demikian ia dipanggil sehari-hari rela telah menunjukkan keberanian dan ketebalan tekad melampaui dan melebihi panggilan kewajiban dalam melaksanakan tugas mulia.
Dia dan alm Ahmad Kirang mendobrak pintu pesawat DC-9 Garuda Woyla menyergap masuk menghadapi para pembajak yang berjumlah 5 (lima) orang bersenjata lengkap.Dia dan alm Ahmad kirang langsung berhadapan dengan para pembajak dan saat itu pula juga terjadilah tembak menembak yang tidak seimbang antara penyergap melawan pembajak.
Dua anggota TNI Pelda Pontas Lumban Tobing dengan Capa Ahmad Kirang melawan lima pembajak pembajak ditengah histeria ketakutan para penumpang pesawat DC-9 Garuda Woyla di Bandara Don Muang. Dua orang yang belum bisa membedakan mana pembajak dan mana penumpang. Sementara pembajak sudah siap menghamburkan pelurunya kepada siapapun penerobos yang akan membebaskan para sandera. Dalam adu tembak yang berlangsung tidak lebih dari 5 menit itu 4 pembajak berhasil ditembak mati dan satu orang lainnya dilumpuhkan. Capa Ahmad Kirang gugur dalam aksi penyelamatan sandera itu dengan sejumlah luka tembak di badannya. Sementara Pelda Tobing sendiri kena dua tembakan masing-masing dibagian rusuk dan tangannya.
Pelda Tobing yang pensiun dengan pangkat Kapten menjelaskan kepada Patriot bahwa ia tidak mengira namun bangga ditunjuk menjadi anggota tim pembebasan pesawat Garuda yang disandera oleh pembajak di Don Muang dibawah pimpinan dua perwira yang sangat ia segani yaitu Jenderal TNI Alm LB Murdhani yang saat itu berpangkat Letjen dan Letjen TNI Purn Sintong Panjaitan yang saat itu masih berpangkat Letkol. PL Tobing ketika dipanggil untuk menjadi anggota tim pembebasan saat itu ia masih bertugas di Salemba sebagai pelatih komandan batalyon resimen mahasiswa dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia.“Pada tanggal 29 Maret 1981 pagi-pagi, tiba-tiba saya mendapatkan telpon dari Markas Kopassus (saat itu masih Kopassandha) yang menurut anak buah saya katanya dari Letkol Sintong Panjaitan”, ungkapnya. Sintong Panjaitan memerintahkannya segera ke Cijantung secepatnya. “Saya lihat dibawah sudah menunggu anggota Provost yang siap menjemput saya ke Cijantung, saat itu pula saya berangkat ke Cijantung tetapi saya tidak tahu tugas apa yang harus saya laksanakan”, imbuhnya.Dia mendapatkan penjelasan di Cijantung langsung dari Sintong Panjaitan bahwa tanggal 28 Maret 1981 pesawat Garuda Woyla di bajak di Don Muang Thailand.
Pasukan TNI dari Kopassandha dibawah pimpinan Letkol Sintong Panjaitan dan dibawah koordinasi langsung Letjen TNI LB Murdhani memiliki tugas membebaskan para sandera dan melumpuhkan pembajak.Pada hari itu juga, menurut PL Tobing Tim Khusus yang berjumlah 30 orang dengan berpakaian sipil diberangkatkan ke Don Muang dengan menumpang pesawat garuda jenis DC-10.
Menurut Tobing semua penumpang nampak gelisah dan ditengah-tengah kegelisahan itu tiba-tiba muncul perintah dari Letjen TNI LB Murdhani agar seluruh prajurit memakai seragam lengkap Kopassandha. “Tunjukkan jati dirimu, lebih baik kita pulang nama dari pada gagal di medan laga. Kata-kata itulah yang memotivasi semangat dan keberanian saya untuk berhadapan langsung dengan pembajak dan membebaskan para penumpang yang disandera meskipun harus mengorbankan nyawa saya “, pengakuan Tobing. Maka saya yang ditugaskan sebagai penyergap bersama almarhum Ahmad Kirang tidak gentar sama sekali mendobrak pintu pesawat yang dibajak dan langsung berhadapan dengan para pembajak, tambahnya.PL Tobing dan Ahmad Kirang mendobrak pintu utama untuk menerobos pesawat yang dibajak, meskipun awalnya sesuai rencana di perintahkan masuk melalui pintu darurat. “Pertimbangan saya dan Ahmad Kirang kalau secara senyap masuk melalui pintu darurat begitu nongol akan di gorok pembajak dan kita tidak bisa membedakan mana pembajak dan mana penumpang, maka kita berinisiatif dan memutuskan untuk melalui pintu utama”, jelas Tobing. Ketika berhasil mendobrak pintu dan masuk ke pesawat saya langsung berterika sekeras-kerasnya” Penumpang Tiaraaaaappp” dengan harapan semua penumpang tiarap kecuali pembajak untuk membedakannya, karena kita memang tidak bisa membedakannya dan kita belum bisa melihat apa-apa di badan pesawat karena mata kita masih beradaptasi, tambahnya. Ternyata apa yang dilakukan Tobing memang benar adanya. Seluruh penumpang tiarap keculai pembajak yang saat itu langsung memberondongnya dengan tembakan.Seperti dituturkanya, kejadian tembak menembak itu telah menewaskan teman seperjuangannya Capa Ahmad Kirang dan dia sendiri mengalami dua luka tembak yang terpaksa mengharuskan dia dirawat di Rumah Sakit Gatot Subroto beberapa waktu lamanya. Namun Tim Khusus dari Kopassandha dan tentu saja karena semangat pengabdian dan pengorbanan 2 orang tim penyergap yaitu almarhum Lettu Anumerta Ahmad Kirang dan Pelda Pontas Lumban Tobing ini telah berhasil menambah torehan emasnya membebaskan para penumpang pesawat DC-9 Garuda Woyla di Don Muang Thailand. Atas jasanya itu Pelda Pontas Lumban Tobing menerima anugerah kehormatan medali “Bintang Sakti Mahawira Ibu Pertiwi” sebagai penghargaan atas pengabdian dan pengorbanannya yang patut dijadikan suri tauladan bagi semua generasi penerus prajurit TNI.Ketika ditanya tentang perasaan apa setelah ia berhasil melaksanakan tugas pembebasan penumpang pesawat Garuda Woyla yang sangat spektakuler itu PL Tobing dengan rendah hati dan jujur mengaku bangga. “ Saya dianugerahi Bintang Maha Sakti dan mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa setingkat lebih tinggi menjadi Peltu“, ungkapnya.
Namun jujur saya katakan kenaikan pangkat luar biasa itu bagi saya kurang tepat, karena tanpa kenaikan pangkat luar biasa itu sebetulnya saya sudah diusulkan oleh satuan naik pangkat secara reguler menjadi Peltu. Memang hal ini pernah menjadi pembicaraan di kalangan satuan saya, tapi biarlah yang penting kita dapat melaksanakan tugas dengan baik. “Tapi saya pesan melalui bapak-bapak (Patriot) moga-moga pimpinan TNI memperhatikan kehidupan para penyandang kehormatan Bintang Maha Sakti ini yang jumlahnya tidak banyak.
Khan bapak-bapak akan repot sekali bila harus mengangkat jenasah saya dari rumah ini menuju TMP, karena rumah saya yang jelek dan berada di gang sempit ini”, pesan PL Tobing melalui Patriot.“Memang betul apa yang dikatakan Pak LB Murdhani, lebih baik pulang nama dari pada gagal di medan laga, dan itu saya kira harus ditanamkan dalam jiwa seluruh prajurit TNI”, ungkapnya. Semangat ini yang harus dipelihara, karena saya lihat sudah banyak yang mulai luntur. Rata-rata hanya mengejar materi. “Kita harus bisa membedakan mana yang emas 22 karat, mana emas palsu. Mana perunggu ? Dan hal ini yang harus dimiliki oleh para pemimpin TNI terutama dalam menilai anak buah yang diharapkan menjadi calon pemimpin masa depan”, tuturnya.
Pembinaan karir jangan hanya didasarkan pendidikan saja, tapi juga harus didasarkan pengalaman dan pengabdiannya, tambahnya.

6/20/08

FOTO BERSAMA SAT 81 GULTOR, KOPASKA, DEN BRAVO 90, TONTAIPUR KOSTRAD DAN DEN JAKA


Ini adalah foto dari 5 elemen yang dipunyai pasukan khusus TNI. Foto ini diambil oleh seorang wartawan di peringatan HUT Kopaska di Surabaya beberapa waktu yang lalu. Nampak 2 pasukan menggunakan atribut baru yaitu Kopaska dengan motif camo PDL dan Denjaka dengan baret merah hati nya. Sebenarnya Dalam pasukan Denjaka juga terdapat anggota dari Kopaska namun pembinaan Denjaka masih dalam naungan Korps Marinir.

PAKAIAN TERBANG PASUKAN LINTAS UDARA






















Pakaian Terbang ini adalah protipe hasil riset penelitian dari dinas litbang Angkatan Udara Rusia. Pakaian ini dulunya adalah hasil penelitian dinas militer Uni Soviet. Bentuknya ya mirip seperti sayap pesawat. Hanya saja untuk diterapkan kepada pasukan lintas udara atau pasukan khusus, suara mesinnya masih terlalu keras sehingga bisa - bisa misi akan gagal krn pasti ketahuan.....terlebih lagi perlu biaya mahal untuk mengoperasikan alat ini dan sangat beresiko apabila mesin mati...dan anda berada di ketinggian 30.000 kaki

Sepertinya peran payung udara dalam pertempuran masih sangat diperlukan....dan Batalyon Perbekud serta depo - depo perawatan payung udara baik di TNI AL dan TNI AU bisa tersenyum karena mereka tak kehilangan fungsi utamanya........

6/18/08

BREVET KOMANDO UDARA PASKHAS


Seorang Bintara Paskhas dengan Brevet Air Assault (MOBUD) Wing Para Dasar AU, Brevet Menembak(Dikantong sebelah kiri) dan Brevet KOMANDO UDARA (semua Brevet TNI AU pada baju PDH berwarna hitam, sedang wing pendidikan luar negeri berwarna sesuai aslinya)

6/16/08

Brevet TRI MEDIA IPAM Korps Marinir




















Brevet Tri Media Intai Amfibi Korps Marinir diklaim oleh Korps Marinir setara dengan Wing KOMANDO milik KOPASSUS karena pendidikan untuk memperoleh brevet ini sangat berat. Bahkan melebihi lamanya pendidikan komando Kopassus. Karena menggabungkan unsur tri media dalam satu paket sampai level pro dalam setiap pendidikannya (Tempur darat, terjun payung dan selam tempur)

BREVET KOMANDO


Brevet KOMANDO KOPASSUS adalah brevet dengan hirarki tertinggi dalam TNI AD. Pelatihan komando adalah pelatihan paling brutal dan terberat dalam tubuh TNI AD maupun TNI. Untuk mendapatkannya para prajurit terpilih bertaruh nyawa 8 bulan lamanya di Dpo Sekolah Komando Pusdikpassus Batu Jajar.

6/9/08

VBSS Team TNI AL




VBSS Team (Visit, Boarding, Search and Seizure) TNI AL...adalah TIM anti bajak laut yang direkrut dari ABK KRI. Mereka dilatih oleh KOPASKA untuk melakukan operasi anti pembajakan terutama di kapal Niaga dan KRI yang dibajak tanpa harus menunggu tim anti bajak laut dari KOPASKA...
KOPASKA mendidik mereka dari zero level karena kurangnya keakraban AK kapal ini dengan senjata serbu macam MP -5, AK 47 dan SS1..selain itu materi CQB memang hanya bisa diajarkan setelah pengetahuan dasar tentang pertempuran jarak dekat dipelajari....diperlukan waktu 4 Bulan untuk mendidik VBSS team ini agar siap dioperasikan.....



TON TAI PUR...pasukan ini adalah pasukan intelijen tempur (salah satu pasukan khusus TNI AD) dalam naungan KOSTRAD. Mereka bergerak melalui media darat, laut dan udara....dan berkualifikasi sebagai Pasukan Para (Linud), Intelijen tempur sekaligus manusia katak (Frogmens) yang didapatkan dari pelatihan KOPASKA Armabar.
1 Peleton Pasukan Pengintai Tempur berharga Rp. Milyar !


PASKHAS......mempelajari infiltrasi lewat laut adalah keharusan bagi pasukan komando. karena metode bertempur mereka menggunakan wahana tri media. Lewat asistensi Detasemen Jala Mengkara, Tim Frogmens Korpaskhasau tergabung dalam Unit Bantuan Tehnik Detasemen BRAVO

6/6/08

"FROGMENs" dalam Pasukan Khusus TNI AD dan Paskhasau




KOPASSUS.....diketahui sedikitnya 200 anggota Kopassus berkualifikasi sebagai PASUKAN KATAK setara KOPASKA TNI AL.

6/5/08

CURHAT PRAJURIT.....

Inilah ironi dalam TNI....

yang namanya tentara di Indonesia ibarat benda keramat.....entahlah siapa yang memulai ini...Pak Harto kah....Bung Karno kah....entahlah......era militerisasi di jaman orba bukan hanya mengibatkan krisis kepemimpinan dalam dimensi sipil....namun juga dalam militer itu sendiri. Fenomena gunung es makin menjadi jadi setelah reformasi.......

Anda lihat, jelas tertulis...masuk TNI /POLRI TIDAK DIPUNGUT BIAYA...namun nyatanya dari tingkat tamtama, bintara, masuk Akademi, masuk SEPA bahkan SECAPA yang notabene dari tentara "jadi" yang pindah golongan....itu mesti pakai Pelicin alias DUIT !....nah kalau udah begini...cara apapun dipakai....padahal kalau dipikir....itu sangat konyol ! Masa kerja digaji ama duit sendiri?..hahaha...praktek semacam ini masih bahkan sangat kental justru di jaman reformasi ini....say menemukan seorang taruna akademi militer yang tingginya juga postur badannya kalah jauh ama seorang tamtama...tapi kok diterima....usut2 anaknya bintang 2...begitu juga 4 tahun lalu saya bertemu dengan taruna AKPOL yang matanya juling !!!! Kalau boleh kasih bocoran...dia anak KomBES. "J" mantan Kapolres Jember 8 thn yang lalu.... teman....tolong lacak kejadian seperti ini,,,,laporkan bila anda menemuinya ke PM angkatan maisng - masing......daripada di masa depa kita punya aparat yang cacat fisik maupun mental..!! mau dibawa kemana TNI/POLRI nantinya.......

Indikasi pengkebiran hak prajurit TNI sangat jelas di Batalyon. Disini para bujangan tidak boleh makan/kos diluar kecuali mereka yang punya posisi tertentu. Nah, Uang LP itu tidak dibagi...disitulah oknum bagian DAPUR, KAS, KOPERASI, dan orang- orang di KOMPI MARKAS bermain.....bagaimana Indonesia bisa menang perang......kalau tentaranya tiap hari diberi makan tempe, tahu, ikan pindang, sayur bayam, sambal terasi.....itu - itu saja menunya...memangnya kita Popeye?....Apalagi kalau tugas naik KRI....anak buah saya yang melebur di Yonif 328 bercerita..kalau di Kapal perang dia bersama Korps Marinir..... konyol sekali ketika ternyata Marinir pun tak anti mabuk laut !!!hahahaha...banyak yang sakit pula... begitu pula makanan....masa rokok satu bungkus sampai berharga Rp. 20.000,- !! dan 1 Liter Botol air Mineral dihargai 10 ribu....busyet...!!! apa ini bukan tentara makan tentara,,,,,??

Kalau cerita saya lain lagi........ketika saya melakukan latihan junpur malam (HAHO/HALO) dengan pesawat Penerbad......saya ber -10 (gabungan Kostrad dan Kopassus) plus "jump master" dari Sekolah Para Kopassus.....saya juga menderita....kenapa?....pesawat Penerbad...sangat bau pesing!!! Mungkin karena tidak ada toilet maka kru pesawat bisa pipis seenak udelnya.....dasar jorok !! terpaksa daripada saya menghirup "racun"...mending saya hirup oksigen dari tangki yang saya bawa dekat rangsel ...kontan saja...semua orang rebutan..! memang saya tidak begitu suka terjun dari tempat yang terlalu tinggi....cape sekali rasanya memegang parasut....belum lagi perhitungan angin yang kadang membawa kita melenceng dari sasaran...berbeda dengan para dasar yang memang disesuaikan dengan operasi lintas udara reguler....

Sekarang itu masa - masa "operasi" telah usai...walaupun kini dikembalikan lagi ke korps asal..namun jiwa ini tetap fighter sejati......andaikan boleh memilih...saya ingin tetap di pasukan sampai mati.....lebih baik mati di dalam pertempuran daripada hidup dari makan uang haram hasil dari memeras hasil keringat para prajurit,,,.....!!!

Tulisan ini adalah fakta yang bukan untuk dikeluhkan.....atau dianggap cengeng dan mental tempe......tulisan ini adalah bahan renungan dari fakta yang terjadi d lapangan...untuk kemajuan TNI, yang berasal dari rakyat...untuk rakyat dan nantinya akan kembali kepada rakyat.....

BAGIMU NEGERI JIWA RAGA KAMI.....!!!!
KARTIKA EKA PAKSI

6/4/08

THE RAIDER






TON TAI PUR KOSTRAD





IDAF SPECIAL FORCES BRAVO 90 DETACHMENT



TNI AL COUNTER TERORISM UNIT ( KOPASKA, DENJAKA, IPAM KORMAR)
























COUNTER TERORISM TEAM

KOPASSUS TNI AD














BREVET PENANGGULANGAN TEROR ASPEK LAUT DEN JAKA TNI AL

BREVET PENANGGULANGAN TEROR TNI

BREVET SAT 81 GULTOR KOPASSUS TNI AD


THE "FATHER" OF MODERN TNI AD ELITE SQUAD

JENDRAL TNI SUSILO BAMBANG YUDHOYONO (SBY)





















THE REAL COMMANDER IN TNI AD





JENDRAL TNI RYAMIZARD RYACHUDU












LETJEN TNI PRABOWO


















LETJEN TNI SUTIYOSO, S.IP