5/31/08

PELETON PENGINTAI PERTEMPURAN KOSTRAD










Kopassus





Let's go



5/30/08

5/28/08

Sejarah Sekolah Para TNI

SEJARAH SEKOLAH PARA DASAR

Sekolah Para Dasar yang merupakan pendidikan terjun tertua di Indonesia, sudah banyak sekali melahirkan penerjun profesional baik dari kalangan TNI, Pramuka maupun masyarakat umum. Banyak perwira tinggi dari TNI-AD, TNI-AL, TNI-AU dan Polri merupakan lulusan dari pendidikan Para Dasar di Lanud Sulaiman. Termasuk diantaranya Jenderal Besar TNI Purn. Soeharto (mantan Presiden RI), Jenderal TNI Purn. M. Yusuf (mantan Menhankam/Pangab), Jenderal TNI Purn. L Benny Moerdani (mantan Menhankam/Pangab), Jenderal Pol Purn. Anton Sudjarwo (mantan Kapolri) dan masih banyak lainnya.

Sekolah Para Dasar pada dasarnya mendidik orang menjadi penerjun statik terutama untuk kepentingan militer. Namun tidak sedikit jumlahnya penerjun-penerjun bebas nasional yang pada awalnya lulusan Sekolah Para Dasar di Lanud Sulaiman yang kemudian beralih ke terjun bebas atau terjun olahraga.

Sekolah Para Dasar sejak berdiri tahun 1946-2003, yang kini berusia 57 tahun sudah meluluskan 145 angkatan yang telah dididik dan dilantik lebih dari 20.453 orang, yang terdiri dari prajurit TNI, Instansi pemerintah antara lain Direktorat Imigrasi dan Bea Cukai, mahasiswa, pramuka, dan masyarakat umum baik secara organik maupun perorangan serta berhak mengenakan “Wing Para Dasar”.

Penerjunan Pertama

Penerjunan pertama yang semuanya dilaksanakan oleh 3 orang putra Indonesia baik penerbangnya maupun penerjunnya, berlangsung pada tanggal 12 Februari 1946 menggunakan tiga buah pesawat Churen. Penerbang Adisutjipto menerjunkan Amir Hamzah, penerbang Iswahyudi menerjunkan Legino dan penerbang M. Suhodo menerjunkan Pungut. Penerjunan pertama di alam Indonesia merdeka yang berlangsung di Pangkalan Udara Maguwo tersebut disaksikan oleh Kepala Staf Angkatan Udara Komodor Udara Suryadarma dan Panglima Besar Letnan Jenderal Sudirman serta petinggi APRI lainnya. Penerjunan yang dilaksanakan pada ketinggian 700 meter, sebagai pengawas kesehatannya adalah Dr. Esnawan. Selanjutnya penerjunan kedua di Pangkalan Maguwo dilakukan oleh Soedjono dan Soekotjo.

Sukses merintis penerjunan pertama di Maguwo tanggal 12 Februari 1946, maka penerjunan kedua, tahun 1947 mulai diadakan latihan secara terencana dan terarah dibawah pimpinan Madjasir, dan Sukotjo yang pernah mendapat pengalaman terjun di Australia. Setelah terbentuknya Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara (TRI-AU) tanggal 9 April 1946, 4 orang pemuda Indonesia yang berada di Australia yang semua penerjun payung, kembali ke Tanah Air bergabung dalam TRI-AU. Ke empat orang tersebut adalah Soedjono, Soekotjo, Sangkala dan Madjasir.

Setelah tiga kali diadakan ekspedisi melalui laut untuk membuka mata rakyat di Kalimantan Indonesia merdeka, yang dilakukan pelopor tigabelas di bawah pimpinan H. Akhmad Dahlan yang berasal dari Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia atau BPRI di bawah pimpinan Bung Tomo, dan ternyata gagal. Oleh karena itu timbul gagasan untuk mencapai pulau Kalimantan dengan lintas udara (terjun payung). Untuk itu diadakan latihan bagi 12 pemuda yang berasal dari Kalimantan dan dua orang pemuda dari Pulau Jawa (petugas dari bagian perhubungan radio) bernama Suyoto dan Hary Hadisumantri.

Kemudian pada tahun 1946 dibuka dengan resmi Sekolah Para Dasar di pangkalan Udara Maguwo. Pada tahun 1947 latihan-latihan Terjun Payung di Pangkalan Udara Maguwo diteruskan atau ditangani Matjasir dan Sangkala yang melatih Pasukan MN 001 pimpinan Tjilik Riwut yang dipersiapkan untuk diterjunkan di Palangkaraya Kalimantan Tengah walaupun Tjilik Riwut bukan penerjun, melainkan penunjuk jalan.

Sedangkan tanggal 24 Maret 1947 dilaksanakan penerjunan oleh Opsir Udara I Soedjono dan Opsir Muda Udara I Soekotjo dalam rangka peresmian Pangkalan Udara Gadut di Bukittinggi. Di pangkalan inilah diadakan latihan terjun payung yang dipimpin Opsir Udara I Soedjono dan dibantu beberapa pelatih antara lain Opsir Muda Udara I Soekotjo, Domey Agan, dan Sersan Mispar sebagai pelatih cara melipat payung.

Tanggal 17 Oktober 1947, dini hari, di Pangkalan Udara Maguwo, Kepala Staf Angkatan Udara Komodor Udara Suryadarma beserta petinggi APRI lainnya melepas keberangkatan 13 pemuda yang telah menyelesaikan latihan para dengan sebuah pesawat Dakota C-47, melaksanakan operasi penerjunan pasukan payung di Kalimantan. Dari ketiga belas orang tersebut, seorang tidak jadi terjun karena takut, 3 orang gugur, yaitu : 1. Hari Sumantri; 2. Kosasih; 3. Iskandar, seorang berkhianat dan 9 orang lainnya menderita dan akhirnya ditangkap oleh pasukan militer Belanda. Mereka yang ditangkap kemudian dipenjara di Kalimantan, Jakarta dan Pulau Nusakambangan. Pada tanggal 2 Desember 1949 mereka dilepaskan, beberapa diantaranya masuk menjadi anggota AURI.

Para Dasar di Pangkalan Andir (Husein Sastranegara)

Tanggal 3 Juli 1950, Sekolah Para Dasar dari Pangkalan Udara Maguwo dipindahkan ke Pangkalan Udara Andir, Bandung. Dalam boyongan Sekolah Para Dasar ini ada 19 orang kader terjun payung dipimpin oleh Pembantu Letnan Muda Udara Dua (Pelda) Surojo dan Peltu Legino. Kepala Sekolahnya dipegang oleh Letnan Udara II Soekotjo. Para pelatih terdiri dari pemuda-pemuda Kalimantan yang pernah diterjunkan pada tahun 1947 ditambah dengan beberapa personil AURI dari Pangkalan Udara Maguwo.

Sekolah Para Dasar di Andir tahun 1950-an mendidik anggota Pasukan Pertahanan Pangkalan angkatan I, pendidikan berlangsung tiga bulan. Siswanya antara lain Letnan Udara Dua Suprantijo (Marsekal Muda TNI Purnawirawan), dan Letnan Udara Dua Sukani (Letkol Anumerta)

Sekolah Para Dasar Angkatan II mendidik prajurit dari Pasukan Pertahanan Pangkalan dan Pasukan Penangkis Serangan Udara. Salah seorang siswanya adalah Kapten Wiriadinata (almarhum mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta). Angkatan III “ground training” dilaksanakan di Andir dan tempat pendaratan di lapangan Sriwijaya, Cimahi, Kabupaten Bandung. Sekolah Para Dasar Angkatan IV yang berlangsung pada tahun 1952, mulai mendidik perwira dari luar TNI-AU antara lain Kapten Infantri M. Yusuf (Jenderal TNI Purnawirawan) dan Letnan Herman Sudiro (Mayor Jenderal TNI Purnawirawan).

Pindah ke PU Margahayu

Mulai tahun 1954 berdasarkan Surat kepu-tusan Kepala Staf Angkatan Udara No 57/45/Pen/KS/54 tanggal 1 April 1954 Sekolah Para Dasar di Pangkalan Udara Husein Sastranegara secara resmi dipindahkan ke Lanu Margahayu juga masih di Bandung, dan di bawah Kesatuan Pendidikan 003 dengan Kepala Sekolah Albert Basirin Oemar.

Pasukan Angkatan Darat khususnya RPKAD (Kopassus) yang pertama mengikuti pendidikan Para Dasar sebanyak 59 orang dengan komandannya Mayor Djaelani, sekolah selesai, ditandai dengan pelaksanaan Wing Day tanggal 11 Agustus 1956.

Mengingat perhatian besar di kalangan TNI AD maka pimpinan TNI AU memenuhi permohonan dari Komandan Akademi Militer di Magelang untuk memberikan latihan dasar keparaan kepada taruna Akabri berdasarkan surat perintah Komandan Wing Pendidikan No 2. dan Surat Perintah Komandan Pangkalan Udara Margahayu dengan nomor 776/08.15.04/VIII/61 tertanggal 12 Agustus 1961 sebanyak 6 orang pelatih (LMU I M. Dahlan, Gatot Domey, Y, Simpey, LMU II Bahri, Sersan Oemar Mu’in dan Sersan M. Jafar) ditugaskan memberikan latihan dasar dan disertai tiga orang pegawai staf sekolah para dari tanggal 18 sampai dengan 31 Agustus 1961.

Masa-masa tersibuk pendidikan Sekolah Para Dasar ialah pada waktu persiapan ABRI menghadapi penyerbuan ke Irian Barat. Semua anggota ABRI yang akan diterjunkan ke medan operasi Irian Barat, dilatih di Sekolah Para Dasar Margahayu karena satu-satunya sekolah para di Indonesia. Mereka berasal dari berbagai Kodam di Indonesia khususnya di Jawa. Oleh karena itu, latihan tidak hanya diselenggarakan siang tetapi juga di malam hari.

Pendidikan Sekolah Para Dasar ini penting sekali peranannya dalam tugas-tugas operasi menumpas pemberontakan di mana-mana sebab lulusan Sekolah Para Dasar langsung diterjunkan dalam medan pertempuran untuk membasmi gerombolan-gerombolan yang menentang pemerintah sah Indonesia.
Mulai tahun 1957, 1958 dan 1959 selain TNI-AU (di Lanu Sulaiman), di lingkungan Angkatan lain dan Polri mulai mengadakan pendidikan sendiri. Seperti TNI Angkatan Darat mendirikan sekolah Para di Batujajar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Dalam upaya meningkatkan keberadaan sekolah Para dan untuk mengikuti perkembangan keparaan di negara maju maka pada tahun 1958 dikirimkan 2 orang pelatih, yaitu LU I AB Oemar dan LMU I Sudarman ke India. Sekembalinya ke Tanah Air diadakan berbagai perubahan, terutama yang bersifat teknis ataupun peralatan. Sedangkan payung udara yang semula buatan Jepang diganti buatan Inggris, lalu diganti dengan buatan Rusia dan Amerika.

Setelah TNI Angkatan Darat mendirikan sekolah Para di Batujajar, diselenggarakan pendidikan Terjun Bebas dengan mendatangkan pelatih dari Yugoslovakia. Dari Lanu Margahayu mengirimkan 2 orang, yaitu Yusman Effendi, dari sekolah para dan Suharto dari Sekolah Dasar Kemiliteran. Namun sayang, Suharto meninggal setelah melakukan penerjunan karena payungnya tidak terbuka dengan sempurna. Dengan modal seorang pelatih, Yusman Effendi, Sekolah Para menyelenggarakan latihan terjun payung yang diikuti oleh pelatih para. Selanjutnya, Sekolah Para dikembangkan untuk melaksanakan sekolah terjun bebas yang justru diikuti oleh warga non militer.

Para Jumping Instructor Course (PJI)

Mengingat sudah sangat dirasakan kekurangan tenaga pelatih maka pada tahun 1961 dibuka pendidikan pelatih dengan nama Para Jumping Instructor Course. Calon siswa diambil dari bintara lulusan Pendidikan Jasmani AURI sebanyak 13 orang. Ketiga belas orang tersebut adalah Sersan Udara I Chaidir Thahar NRP 480558 (alm), SU I Roeroe Wiliam Samuel NRP 480606 (alm), SU I Rusmin H.S NRP 480607, SU I Slamet Sutirto NRP 480603, SU I J. Hutapea NRP 480564, SU I Iskidjan K NRP 480563 (alm), SU I Zaenudin Munir NRP 480593 (alm), SU I Edy Noerhadi NRP 480575, SU I Paliman D NRP 480596 (alm), SU I R.A. Prabowo NRP 480602 (alm), SU I Moch. Soim Sulaiman NRP 480570 (alm), SU I Muria Brata NRP 480571, SU I J.F. Sukardi NRP 480565.

Setelah mengikuti pendidikan mereka diangkat menjadi pelatih pada Sekolah Para Pangkalan Udara Margahayu. Merekalah yang selanjutnya merupakan tenaga andalan di Sekolah Para Pangkalan Udara Margahayu. Pada akhir karirnya di AURI mereka berhasil memasuki masa pensiun dengan pangkat Mayor Udara.

Kogabdik Para

Peranan prajurit pasukan payung makin menonjol dalam melaksanakan tugas-tugas operasi militer. Untuk mendapat hasil guna dan daya guna maksimal, diadakan koordinasi yang baik dalam pelaksanaan pendidikan Para. Maka dari itu tahun 1962 dibentuk satu Komando Gabungan Pendidikan Para (Kogabdik Para) dipimpin oleh Kolonel Udara Wiriadinata, sekaligus sebagai pelatih tentara dalam rangka merebut Irian Barat.

Pada tahun 1964 pendidikan Sekolah Para Angkatan ke-42, salah seorang siswanya adalah Mayor Jendaral TNI Soeharto (kini Jenderal Purn/ mantan Presiden RI ke-2). Kepala Sekolah Para waktu itu Letnan Udara Edy Suwargono dan sebagai Komandan Kesatuan Pendidikan adalah Kapten Udara Suripto. Dengan dibubarkannya Kogabdik Para pada tahun 1966 tugas pendidikan Para dilaksanakan oleh Kesatuan Pendidikan 001 Wing Pendidikan No. 2 Lanud Margahayu. Pada tahun itu pula di langsungkan pendidikan para bagi lulusan Akademi Angkatan Udara.

Pada Angkatan ke-40 sejumlah wartawan diikut sertakan mengikuti pendidikan Para yaitu antara lain Hendro Subroto dari TVRI Stasiun pusat Jakarta, Amir Zainun dari Pikiran Rakyat serta sejumlah wartawan lainnya. Demikian juga muncul penerjun-penerjun wanita seperti Tuti Gantini (putri Marsda Purn RA Wiriadinata).

Gadis bernama Tuti Gantini, adalah penerjun statik wanita pertama Indonesia yang Wingday dilaksanakan tanggal 23 Agustus 1962, dan latihan Ground Training dilaksanakan hanya 5 hari berturut-turut yang melelahkan, namun Tuti merasa gembira dapat kesempatan menjadi siswa satu-satunya yang dididik oleh seluruh pelatih para.

Selanjutnya, jejak Tuti Gantini diikuti oleh dua orang adik wanitanya yaitu Sutarti Gantini dan Suharti Gantini dan seorang adik laki-lakinya bernama Suwandi. Dengan rintisan Tuti Gantini maka pada angkatan–angkatan berikutnya bermunculan penerjun-penerjun wanita, tidak hanya dari kalangan TNI seperti, Tati Hartati Karyawati dari Lanu Husein Sastranegara, PNS Usmini (Wing Day 5 Agustus 1967) dari Lanu Sulaiman dan lain-lainnya.

Kemudian Kowad, Wara, Polwan tetapi juga istri-istri anggota Angkatan Darat. Disamping itu juga anggota PIA Ardhya Garini seperti Ny. Etty Djoko Aksoro, istri Perwira Tinggi TNI AU seperti Indriaty Iskak Makki Perdana Kusuma beserta adiknya Alice Iskak menjadi penerjun Para.

Pengalaman pahit dijumpai, pada pendidikan Para Angkatan ke-72 tahun 1968. Saat itu mendidik 303 siswa yang terdiri dari siswa taruna Akabri dan siswa-siswa calon Instruktur, 4 orang siswa mengalami musibah yaitu pada saat praktek terjun malam masuk kali Citarum dan 2 orang siswa dapat di selamatkan oleh tim penolong sedangkan 2 orang siswa lagi masing-masing Suwarno (siswa taruna Akabri) dan Cornelis (siswa calon Instruktur) jiwanya tidak dapat di selamatkan. Pelaksanaan pendidikan sekolah Para pun mengalami penyempurnaan-penyempurnaan sesuai dengan perkembangan.

Pada tahun 1966 Kogabdik dibubarkan, selanjutnya tugas mendidik Para Dasar dilaksanakan oleh kesatuan pendidikan 001, di bawah Wingdik 2, tetap di Margahayu. Mulai tahun itu pula, Kesatuan Pendidikan 001, mendidik terjun statik para lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU). Pada tahun 1969 s/d 1972, pendidikan Para dilaksanakan untuk para Taruna AAU. Pada kurun waktu tersebut, mulailah berkembang olahraga terjun bebas (free fall) dikalangan, ABRI, mahasiswa dan masyarakat umumnya.

Pada tanggal 15 Mei 1972 di lapangan Apel Wing Dik 2 Lanud Sulaiman telah ditutup pendidikan Sekolah Para Dasar Angkatan ke 76 yang diikuti 200 orang siswa yang terdiri dari calon Tamtama Kopasgat 156 orang, anggota TNI AU sejumlah 36 orang, anggota pramuka 8 orang dari Kwarcab Semarang dan Jawa Barat dan seorang siswa wanita dari Lanud Tasikmalaya. Lama pendidikan 45 hari yang meliputi pendidikan dasar (Ground Training) selama 4 minggu dan penerjunan sebanyak 7 kali dengan menggunakan pesa-wat Dakota dan payung parasut T10.


Pada tahun 1973 s/d 1976 untuk sementara tidak ada pendidikan Para Dasar kecuali mengadakan latihan (refreshing) yang dilaksanakan di Markas Komando Pasukan Gerak Tjepat (Pasukan Khas TNI AU). Pendidikan Sekolah Para Dasar dimulai lagi pada tahun 1978 oleh Skadron Pendidikan 001 (yang berubah menjadi Skadik 201). Kasau Marsekal Ashadi Tjahjadi menutup Sekolah Para Dasar Angkatan ke 78 dengan lulusan 99 Prada PGT pada tanggal 21 Juli 1978, pada waktu Komandan Wing dik 2 Letkol Lek Wasto Sudijat.

Tahun 1988 diadakan Pendidikan Sekolah Para Dasar Angkatan ke-105. Pendidikan tersebut diikuti oleh 134 siswa yang terdiri atas 63 orang siswa dari Susnalpas, 38 orang siswa Susnal Provost, 25 orang siswa Mahasiswa, 7 orang siswa Instruktur dan 1 orang siswa Perwira Tinggi yaitu Marsekal Pertama TNI M. Suparman yang saat itu menjabat sebagai Komandan Puspaskhasau.

Wing Para Dasar Kehormatan

Sejak awal berdirinya, Sekolah Para telah melaksanakan pendidikan bagi prajurit TNI AU dan komponen masyarakat lainnya. Penyematan Brevet Wing Para Dasar tanggal 19 Juni 1998 kepada pimpinan TNI AU untuk pertama kalinya ini memberikan arti bagi Komando Pendidikan TNI AU, khususnya Sekolah Para. “Ini adalah wujud dan ungkapan terima kasih Kodikau kepada Kasau dan pejabat TNI AU atas segala dukungan dan perha-tiannya terhadap Sekolah Para”, kata Komandan Kodikau Marsekal Muda TNI Lambert F Silooy pada upacara militer Jumat 19 Juni 1998 di lapangan apel Korpaskhasau.

Adapun para pejabat yang mendapat Wing Para Dasar Kehormatan adalah 34 perwira TNI AU yang terdiri dari 19 Perwira Tinggi dan 15 Perwira menengah berpangkat Kolonel. Perwira Tinggi tersebut antara lain Marsekal TNI Sutria Tubagus (Kasau tahun 1998), Marsekal Muda TNI Gde Sudana, Marsda TNI Irawan Saleh, Marsda TNI Holki BK, Marsda TNI Priyo Utomo Wardi, Marsma TNI Supriadi, Marsma TNI Ir. M. Damanik, Marsma TNI Zeky Ambadar, Marsma TNI Herman Prayitno, Marsma TNI Sutardi Anantaguna, Marsma TNI Ig. Bambang Risharyanto, Marsma TNI Dr. Soleh Nugraha, Marsma TNI Ali Nur, SH, Marsma TNI Haryoko Suryo, Marsma TNI Sutrisno, SP, Marsma TNI Alimunsiri Rappe, Marsma TNI Joko Suyanto, Marsma TNI Totok Riyanto, Marsma TNI Mulyanto D. Adapun ke-15 Pamen yang dimaksud adalah Kolonel Pnb T. Syahril, Kolonel Pnb Prasetyo, Kolonel Pnb FX. Budi Hartanto, Kolonel Pnb Marjono, Kolonel Pnb HR. Supriyanto, Kolonel Pnb Tarsila, Kolonel Pnb Sholeh Trijoko, Kolonel Pnb Al Ibnu Muryanto, Kolonel Pnb Bambang Robiyanto, Kolonel Lek Irwan Marwanto, Kolonel Kal A. Aziz Manaf, Kolonel Tek Gunarsito, Kolonel Pnb IB. Sanubari, Kolonel Pnb Basri Sidehabi dan Kolonel Pnb Eko Eddy Santoso.

Sejak tahun 1966 hingga tahun 2001 yang pernah memimpin pendidikan Sekolah Para Dasar adalah: Kapten Udara Suprantijo, Mayor Udara Bob Soerasapoetra, Letkol Udara Ramli Sumardi, Kapten Udara AB Umar, Mayor Udara Soeripto, Mayor Udara Trihardono, Letkol Adm. F A. Suhadi, Kapten Adm. M.Y. Simpey, Mayor Pas. Ediarto dan Letkol Kes. A. Hidayat, Mayor Psk Komar Hidayat dan Mayor Lek Untung Basuki.

Sekolah Para Lanjut Tempur (PLT)

Disamping sejumlah sekolah langsung ditangani Skadik-Skadik di bawah Lanud Sulaiman ada juga sekolah Para Lanjut Tempur (PLT), Sekolah Para Olahraga dan Sekolah Intrukstur PLT, di bawah Depo Latihan Pasukan Khas TNI AU, Korps Pasukan Khas TNI AU. Seiring dengan perkembangan organisasi Paskhas AU, Depolat Paskhas AU berubah menjadi Wing 3 Pendidikan dan Latihan Paskhas AU.
Selain melaksanakan tugas mengelola pendidikan dari sistim pendidikan dalam Program Ganesha, di Lanud Sulaiman ada sebuah Pendidikan dan Latihan yaitu Depo Latihan Pasukan Khas TNI AU yang organisasinya langsung di bawah Markas Pusat Pasukan Khas TNI AU. Depo ini mendidik prajurit Paskhas AU dalam kualifikasi tertentu dalam Matra Keprajuritan dan Terjun Payung Lanjutan.

Pusat Pasukan Khas TNI AU mempunyai beberapa Skadron, diantaranya markas di Lanud Sulaiman adalah Skadron Paskhas AU 462 Namun kini sudah dipindah ke Lanud Pekan Baru dan Detasemen Bravo.