3/22/09

Efektivitas GRUP I dan II PARAKO KOPASSUS

Tulisan ini adalah pendapat saya pribadi sebagai insan prajurit pejuang dan pejuang prajurit yang senantiasa memikirkan kemajuan TNI ke depan sebagai Tentara Nasional yang besar, kuat dan profesional.

Pengertian besar pada tulisan saya diatas bukan berarti punya banyak personel. Inilah yang terjadi pada tubuh Komando Pasukan Khusus TNI AD.

Saya rasa postur organisasi Kopassus sekarang masih "terlalu gemuk". Efek negatif dari postur organisasi yang seperti itu apabila tidak diimbangi dengan pendanaan yang cukup adalah pembinaan, mempertahankan dan peningkatan kualitas personel yang tidak merata. Hal ini memang sangat dirasakan pada tubuh GRUP I dan II. Sempat bertemu dengan beberapa teman di Serang dan Solo, mereka mengungkap semuanya. Lebih jauh lagi, penugasan Grup Parako (Para Komando) sekarang sudah seperti batalyon lintas udara saja. Mereka selalu dan selalu diterjunkan bersama batalyon - batalyon linud KOSTRAD yang kalau ditilik lebih jauh dalam sejarah TNI memang mempunyai kualifikasi pasukan "mirip" Parako, yaitu RAIDER PARA. Walaupun memang tak dipungkiri, dalam Grup I dan II terdapat beberapa personel berkualifikasi lebih bahkan diluar matra darat (paska, OP3UD dll) namun inti dari penugasan PARAKO apapun alasannya adalah LINTAS UDARA. Mungkin alasan "klasik" sederhana yang di kemukakan para petinggi KOPASSUS apabila mempertahankan unit Parako adalah : "sesuai tupoksi nya Kopassus bertugas pada penugasan khusus yang tidak bisa dilaksanakan oleh unit lain". Dalam kenyataannya dari rentang waktu penugasan mulai dari Operasi Seroja (bahkan Parako "didahului" Yon Armed 1 Ajusta) sampai dengan operasi Aceh..PARAKO selalu diterjunkan bersamaan dengan batalyon linud KOSTRAD. Lalu, dimana letak kekhususan pasukan elit TNI AD ini apabila mereka selalu mengerjakan tupoksi sebagai unit lintas udara ?

Ide "gila" saya adalah melebur PARAKO dari 2 GRUP menjadi 1 GRUP .
Yaitu Grup Kualsus (Kualifikasi Khusus) dengan rincian cukup 2 batalyon :

1 Batalyon khusus untuk mendalami kecabangan dalam TNI AD dan 1 Batalyon lagi untuk mendalami kecabangan di luar matra darat.

Dengan demikian diharapkan KOPASSUS memang benar - benar menjadi KOPASSUS yang besar memiliki kemampuan komplit di darat, laut dan udara maupun bawah air. Pembinaan personel juga bisa lebih tertata karena konsentrasi spesialisasi pelatihan bisa terbagi dalam tingkat peleton dan rotasinya bisa diatur.
Personel Grup ini adalah hasil seleksi dari anggota Grup I dan II. Yang tidak memenuhi persyaratan akan disalurkan ke batalyon - batalyon KOSTRAD baik unit linud maupun linmed. Dengan begitu, selain efisien juga efektif untuk "mengakali" pembinaan dan peningkatan skill batalyon - batalyon KOSTRAD yang harus selalu stand by sebagai KOTAMA BALAKPUS. Terutama untuk mengisi personel DIVISI III yang akan segera beroperasi.

Selama ini batalyon - batalyon linud KOSTRAD selalu menerima prajurit - prajurit baru sehingga perlu waktu lama untuk mendidik mereka menjadi siap tempur. Ada sih diantaranya yang memang hanya menerima bintara reg dari kesatuan mereka sendiri seperti YONIF Linud 328 dan Yonif 514 Raider. Namun untuk keseluruhan memang KOSTRAD memerlukan banyak personel yang mumpuni dan telah profesional menjalankan tugasnya. Efek positif lainnya yaitu tidak ada lagi seorang prajurit baru semua tingkatan (tamtama, bintara dan perwira) menjadi prajurit staf. Karena jabatan - jabatan staf bisa juga diambil dari staf senior ex. Grup I dan II. Pembinaan lapangan lebih terarah karena telah ada pemenuhan kader pelatih.

2/6/09

My new Email & HP Number...

Bagi anda yang ingin menanyakan tentang pendidikan TNI, kultur satuan (bukan alutsista), atau hal - hal lainnya tentang keprajuritan dapat mengirimkan email ke :

raider_ari@plasa.com (harus disertai foto asli anda)

atau :

081237369178 pada jam kerja 09.00 s/d 12.00 waktu setempat (SMS only)

Pembaretan Prajurit Korps dan Kotama TNI

PEMBARETAN PELETON PENGINTAI PERTEMPURAN KOSTRAD


PEMBARETAN ANGGOTA KOPASSUS TNI AD


PEMBARETAN ANGGOTA KORPS MARINIR TNI AL




PEMBARETAN ANGGOTA KORPASKHASAU TNI AU



PEMBARETAN ANGGOTA KEHORMATAN KOPASKA TNI AL




2/3/09

Tradisi Pembaretan dan kultur satuan TNI

Pembaretan dan pleton latihan (ton lat) pembayatan dll sebenarnya adalah bagian dari sisi keprajuritan Tentara Nasional Indonesia yang memang terkait dengan sejarah perjalanan bangsa Indonesia sendiri. Semua itu dimaksudkan agar para prajurit baru dapat memahami betapa berharga dan sucinya pengabdian kepada ibu pertiwi yang seringkali berujung kepada nyawa yang menjadi taruhannya. Simaklah pendidikan pasukan - pasukan khusus baik di TNI AD, TNI AL maupun TNI AU. Walaupun mereka telah mendapat baret di kesatuan asal atau induknya namun apabila satuan khusus yang dimasuki memiliki tradisi dan karakteristik tersendiri dalam berbagai hal yang berbeda dengan satuan asalnya maka tradisi pembaretan dan pemasangan Brevet tetaplah sakral bagi seorang prajurit. Karena untuk mendapatkan baret dan brevet kebanggaan perlu minimal 7 bulan menempuh pendidikan untuk memiliki skill dan kemampuan yang memang seperti diakui oleh tentara asing SAMPAI BATAS PUNCAK atau bisa dikatakan SADIS ! Lihat saja pembaretan Kopassus, Raider, Ton Tai Pur, IPAM, Paskhas dan Kopaska semua dicapai dengan susah payah oleh calon anggotanya.

Biasanya setelah tradisi pembaretan maka diadakan tradisi pengenalan satuan. Disini para prajurit baru dikenalkan kepada kehidupan batalyon / satuan dan senior. Nah, awalnya walaupun tujuannya baik namun seringkali ini dijadikan ajang balas dendam oleh para senior. Kekerasan yang tidak perlu sering terjadi dengan alasan yang dibuat - buat. Sebenarnya para junior ini (terutama tamtama remaja) bukan takut. Mereka hanya segan. Karena pada klimaksnya bisa terjadi kekacauan dalam batalyon seperti pada 2000-an di Yonif 515 / KOSTRAD di Tanggul Jember dan Yon Arhanudri 1/ KOSTRAD di Serpong. Keduanya kebetulan batalyon KOSTRAD. Disamping 2 batalyon tadi masih banyak contoh lainnya namun belum terungkap. Sebenarnya keras itu perlu untuk menempa mental prajurit namun kekerasan yang berlebihan justru berbahaya. Sikap yang keras (bukan kaku) perlu dari seorang pelatih dalam latihan agar prajurit dapat mengerti dan cepat menguasai skill yang diperlukannya. Sikap keras seorang komandan regu, peleton, kompi sangat perlu dalam pertempuran agar motovasi prajuritnya tidak drop.

Sikap keras yang berlebihan inilah yang akhirnya menjadi Bullying. Ini dicontoh oleh Sekolah sekolah bermodel Semi Militer semacam IPDN, STIP dll. Mereka beranggapan bahwa militer mendidik para prajuritnya dengan kekerasan sehingga para juniornya pada patuh. Anggapan ini tentu saja salah besar karena yang menjadikan seorang patuh adalah sistem. Pelatih, komandan dan senior menghukum seorang prajurit apabila melakukan kesalahan bukan mengatas namakan pribadi-nya melainkan aturan kedinasan. Sedangkan para taruna sipil ini melakukan kekerasan tanpa alasan dan hanya sebagai gagah - gagahan. Mereka ingin dihormati dan ditakuti oleh para juniornya. Saya sangat menyesali hal ini

Tiap satuan di TNI itu unik. Mereka punya sesanti, lambang dan keterkaitan sejarah (legenda) bangsa Indonesia. Satu - satunya organisasi tentara profesional yang mempunyai hal seperti itu di dunia adalah TNI. Multi kultur bangsa Indonesia menyebabkan satuan tempur nya memiliki gerak dan tradisi khas satuan yang beragam. Tengok saja Batalyon 323 Raider yang memiliki keterkaitan dengan legenda Buaya Putih. Atau Batalyon Linud Masariku di Ambon, semua punya kultur tersendiri yang erat dengan budaya masyarakat setempat.

1/26/09

DIVISI III KOSTRAD segera beroperasi...

Divisi III akan segera beroperasi pada tahun 2009. Divisi KOSTRAD ini akan dipusatkan di Sorong, Papua dan akan membawahi 3 Brigade diantaranya Brigif 22 dan Brigif Linud 3. Seperti yang diketahui bahwa brigif Linud 3 sangat erat kaitannya dengan Kopassus. Mengingat, dulunya pasukan linud dibawah brigif linud ini adalah "eks. Baret Merah". Pada saat itu terjadi likuidasi dalam tubuh Kopassus alias penciutan dan perpindahan markas. Akhirnya sebagian besar anggota parako di Makassar dimutasi ke Batalyon Linud KOSTRAD. Markas Komando Divisi III (brigade dan elemen - elemennya) akan ditempatkan di Makassar dan Gorontalo.